#Fawaid Edisi Khusus
☄️ LAILATUL QADAR
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره و احيا ليله و ايقظ اهله .
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bila telah masuk sepuluh yang akhir dari Ramadhan, beliau mengencangkan kain sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.”
(HR. Mutafaqun ‘Alaihi, Bukhari 2024 dan Muslim 1174)
Disebutkan dalam syarah Ibnu Rajab rahimahullah terkait hadits di atas, bahwasanya Imam Ibnu Rajab berkata:
Di antara kekhususan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sepuluh akhir Ramadhan adalah:
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan keluarganya di malam-malam sepuluh akhir Ramadhan, yang hal ini tidak beliau lakukan pada bulan lainnya, menunjukkan bahwa hal ini sangat dianjurkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangunkan putrinya, Fatimah bintu Rasulullah dan menantunya Ali bin Abi Thalib, dengan ucapan, “Tidakkah kalian bangun untuk shalat?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga membangunkan istri-istrinya, termasuk Aisyah.
Demikian juga diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau membangunkan istrinya dan anak-anaknya, beliau berkata “Shalat, shalat!!!”
Sambil membacakan firman Allah subhanahu wa ta’ala,
و أمر اهلك بالصلاة و إصطبر عليها
Dan perintahkan keluargamu untuk shalat, dan bersabarlah dalam upaya untuk menasehati mereka.
(QS. Thaha ayat 132)
Diriwayatkan bahwa istri dari Hubaib, berkata kepada suaminya, pada malam hari Ramadhan,
“Malam telah berlalu dan di hadapan kita jalan yang sangat panjang membentang, bekal kita sedikit, sedangkan kafilah orang-orang shalih telah berlalu, dan kita masih tertinggal.”
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengencangkan sarungnya.
Para ulama berselisih terkait kata, “Mengencangkan kain sarungnya”.
Sebagian berkata, itu bahasa kiasan untuk kesungguhan.
Sebagian berkata, maknanya adalah beliau menjauhi istri-istrinya (untuk berjima’), demikian riwayat dari kalangan kaum salaf, seperti Sufyan Ats Tsaury.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan, sedangkan i’tikaf dilarang untuk mendekati istrinya (berhubungan badan).
Maka, tatkala Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan seorang bergaul dengan istri-istri mereka di malam-malam Ramadhan sehingga jelas waktu pagi dan malam hari (Al Baqarah ayat 187). Bersama dengan itu, saat sepuluh hari terakhir Ramadhan Allah juga memerintahkan kepada mereka (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabat) untuk bersungguh-sungguh dalam mencari keutamaan lailatul qadar.
Hal tersebut dimaksudkan agar kaum muslimin secara umum, tidak terus-menerus sepanjang malam menikmati perkara-perkara mubah, sehingga mereka kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keutamaan lailatul qadar.
Maka di sini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi istri-istrinya pada dua puluh hari (awal) di bulan Ramadhan, dan menjauhi mereka untuk fokus i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan untuk mendapatkan lailatul qadar.
- Disebutkan, keseriusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sepuluh terakhir Ramadhan dalam ibadah, menyebabkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunda makan besar (buka puasa utama) sampai waktu sahur (dengan tetap membatalkan puasa di waktu Maghrib),
Sebagaimana riwayat dari Aisyah dan Anas bin Malik.
Disebutkan dari Ashim bin Kulaib dari bapaknya, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyambung puasa (wishal), namun beliau hanya (kadang) tidak makan sampai waktu sahur.
Riwayat ini tidak bermasalah.
Sedangkan Ibnu Jarir, membantah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan puasa wishal, yang beliau lakukan hanya menunda waktu berbuka puasa di waktu sahur, hal ini boleh dilakukan bagi mereka yang kuat, bagi orang yang tidak kuat (secara umum) makruh.
Sehingga diriwayatkan dari Ahmad dan Ishaq, mereka berkata “Tidak dimakruhkan puasa wishal, namun hanya sampai waktu sahur”.
Disebutkan oleh Bukhari,
لا تواصلوا فايكم اراد يواصل فليواصل حتى السحر.
“Jangan kalian melakukan puasa wishal (sambung), namun bila ada di antara kalian melakukannya, maka lakukan hanya sampai waktu sahur.”
(HR. Bukhari 1963)
Semua ini menunjukkan atas karunia Allah kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bulan puasa, kedekatan beliau kepada Rabbnya, yang beliau bersungguh-sungguh untuk bermunajat dan berdo’a serta berdzikir kepada-Nya, yang semua itu menambah ketenangan dalam jiwa beliau, dan karunia ini (ketenangan jiwa) mengenyangkan Rasulullah dan menggantikan makanan dan minuman yang berbentuk materi.
- Diriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di sepuluh malam terakhir Ramadhan, beliau mandi antara Maghrib dan Isya’,
Sebagaimana riwayat Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi antara dua adzan, yakni adzan Maghrib dan Isya’. Namun riwayat ini lemah.
Diriwayatkan dari Hudzaifah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi pada satu malam di malam Ramadhan di satu tempat yang ditutupi pelepah kurma, kemudian dituangkan satu ember air untuk beliau”.
Diriwayatkan, bahwasanya An Nakha’i mandi pada malam hari saat sepuluh terakhir Ramadhan.
Disebutkan dari sebagian ulama salaf, mereka mandi di malam hari akhir-akhir Ramadhan, kemudian memakai wewangian pada malam-malam yang diharapkan turun lailatul qadar.
Dengan demikian, dianjurkan pada malam-malam yang diharapkan turun lailatul qadar untuk membersihkan dirinya, menghias dirinya, memakai wewangian, dan memakai pakaian terbaik, sebagaimana dilakukan saat hari Jumat.
Menghiasi dzahir tidak bisa disempurnakan kecuali dengan menghiasi bathin, yaitu dengan bertaubat kepada Allah, membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran dosa.
Karena menghiasi dzahir, sementara bathin dalam kondisi rusak, maka hal ini tidak bermanfaat sama sekali.
Tidak pantas meminta kepada raja dalam kondisi sepi, kecuali seorang yang menghiasi lahir dan bathin serta membersihkannya.
Terlebih lagi kepada Allah, rajanya para raja, yang Allah tidak melihat rupa kalian, namun melihat hati dan amal kalian.
- Kemudian beliau bersungguh-sungguh dalam i’tikaf.
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,
أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يعتكف العشر الاواخر من رمضان حتى توفاه الله.
“Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh akhir Ramadhan sehingga beliau diwafatkan oleh Allah.”
(HR. Mutafaqun ‘Alaihi, Bukhari 2025 dan Muslim 1153)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir yang diharapkan datangnya lailatul qadar, untuk memutuskan semua kesibukan dan menyibukkan diri bermunajat kepada Allah, berdzikir dan berdoa.
Beliau mempersiapkan dirinya dengan alas, dan menjauhi manusia untuk menghadap kepada Allah.
I’tikaf adalah uzlah (menyendiri) yang sesuai syariat. Dilakukan di masjid, dengan tujuan agar seorang tidak meninggalkan shalat Jum’at atau berjama’ah.
Khalwat (menyendiri) yang diperintahkan kepada umat ini adalah i’tikaf di masjid (bukan dengan bertapa atau yoga), terlebih pada akhir Ramadhan, terlebih khusus pada sepuluh akhir Ramadhan.
Seorang yang beri’tikaf, berarti menahan diri dan menyerahkan dirinya untuk ketaatan kepada Allah, memutuskan semua hal yang menyibukkan dirinya, tidak tersisa waktunya kecuali untuk Allah.
Wahai lailatul qadar datangilah orang-orang yang jujur dalam ibadah.
Wahai para hamba, ruku’ lah kepada Rabbmu dan bersujud lah.
Wahai lisan orang-orang yang berdoa, bersungguh-sungguhlah memohon kepada Rabbmu.
(Kitab Lathaifu Ma’arif 353-367)
Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.
✍️ Ustadz Abu Abdurrahman bin Muhammad Su’ud al-Atsary حفظه الله تعالى
🌐 Kajian Pencari Ilmu Syar’i
✯══ •𝗔𝗟𝗠𝗔𝗛𝗬𝗥𝗔 𝗕𝗜𝗟 ‘𝗜𝗟𝗠𝗜 • ══✯
ᴹᵉⁿⁱᵗⁱ ʲᵃˡᵃⁿ ʰⁱᵈᵃʸᵃʰ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ⁱˡᵐᵘ ᵈᵃⁿ ˢᵘⁿⁿᵃʰ
📡Website : https://Almahyrabililmi.com
📖 Link daftar sekolah dan kelas online : daftar.almahyrabililmi.com
🎞️Telegram : t.me/Almahyrabililmi
🎙️Radio : radio.almahyrabililmi.com
📼Youtube: youtube.com/@Almahyrabililmi
💽Instagram : instagram.com/Almahyrabililmi
⏲️Facebook : web.facebook.com/Almahyrabililmi
🌐Web sekolah : https://school.almahyrabililmi.com
🗃️IG sekolah : instagram.com/almahyrabililmi_school
💾Join wa Grup : almahyrabililmi.com/wagrup
📑Saluran WA: s.id/SaluranwaABI


