Fawaid
📌 KEUTAMAAN MUHARRAM
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أفضال الصيام بعد رمضان شهر الله المحرام و أفضل الصلاة بعد الفريضة صلاة الليل.
Seutama-utama puasa setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah yakni Muharram, sementara seutama-utama shalat setelah shalat wajib adalah shalat malam.
(HR. Muslim)
Hadits di atas dimaknai dalam dua bentuk:
- Puasa secara umum, yakni Muharram sebagai bulan haram adalah hari-hari puasa secara mutlak.
- Perintah untuk puasa ‘Asyura.
Di sebutkan dalam riwayat lain dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
من وسع في يوم عاشوراء على عياله و أهله وسع الله عليه سائر سنته.
Barangsiapa memberikan keluasan dari rezekinya di hari ‘Asyura kepada kerabat dan keluarganya, maka Allah akan memberikan keluasan rezekinya di tahun itu.
Dikatakan oleh Nawawi (Abu Zakariya Yahya bin Syarif an Nawawi) rahimahullah,
و حاصله أن ما ورد من فعل عشر خصال يوم عاشوراء لم يصح فيها إلا حديث الصيام و التوسعة على العيال ، و أما الباقي الخصال الثمانية فمنها ما هو ضعيف ومنها ما هو منكر موضوع.
Dan kesimpulannya, apa yang dijelaskan terkait sepuluh amalan di hari ‘Asyura tidak ada yang shahih kecuali hadits tentang puasa dan berbagi (kepada keluarga dan kerabat), sedangkan sisanya bila tidak dhaif maka hadits munkar maupun palsu (maudhu’).
(I’anatut Thalibin 2/301)
Sebagaimana yang kami (Abu Abdurrahman) jelaskan dalam tulisan yang lain, bahwasanya ulama-ulama salaf dahulu, mereka memuliakan sepuluh yang tiga, sepuluh akhir Ramadhan, sepuluh awal Dzulhijjah, dan sepuluh awal Muharram.
Di antara bentuk pendekatan seorang hamba di bulan ini adalah puasa (baik secara mutlak maupun puasa ‘Asyura).
Sedangkan terkait dengan melapangkan rezeki (berbagi), riwayat-riwayat yang ada masih diperselisihkan ulama, namun hal ini masuk bab secara umum dalam amal kebaikan secara mutlak pada bulan-bulan haram.
Maka hendaknya seseorang banyak bersedekah di hari-hari Muharam untuk mengamalkan riwayat di atas, dengan berbagi rezeki (bersedekah) kepada keluarga, kerabat, orang tua, duafa, yatim, maupun orang-orang yang tidak mampu, untuk memuliakan bulan ini (Muharram).
Keyakinan bahwa bulan Muharram adalah bulan yatim, maka hal ini adalah keyakinan dari Syi’ah dan bukan dari syari’at kita yang suci, di mana mereka menganggap bulan ini adalah bulan yatim, karena anak-anak Husain kehilangan orang tuanya di peperangan Karbala (keyakinan Khurafat), sehingga setiap Muharram mereka menyantuni dan mengusap kepala yatim, sementara syari’at memerintahkan kepada kita untuk menyantuni anak-anak yatim setiap saat.
Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.
✍️ Ustadz Abu Abdurrahman bin Muhammad Su’ud al Atsary حفظه الله تعالى
🌐 Sumber: Kajian Pencari Ilmu Syar’i
✯══ •𝗔𝗟𝗠𝗔𝗛𝗬𝗥𝗔 𝗕𝗜𝗟 ‘𝗜𝗟𝗠𝗜 • ══✯
ᴹᵉⁿⁱᵗⁱ ʲᵃˡᵃⁿ ʰⁱᵈᵃʸᵃʰ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ⁱˡᵐᵘ ᵈᵃⁿ ˢᵘⁿⁿᵃʰ
📡Website : https://Almahyrabililmi.com
📖 Link daftar sekolah dan kelas online : daftar.almahyrabililmi.com
🎞️Telegram : t.me/Almahyrabililmi
🎙️Radio : radio.almahyrabililmi.com
📼Youtube: youtube.com/@Almahyrabililmi
💽Instagram : instagram.com/Almahyrabililmi
⏲️Facebook : web.facebook.com/Almahyrabililmi
🌐Web sekolah : https://school.almahyrabililmi.com
🗃️IG sekolah : instagram.com/almahyrabililmi_school
💾Join wa Grup : almahyrabililmi.com/wagrup
📑Saluran WA: s.id/SaluranwaABI


