ANTARA NAKAL DAN HIDAYAH

ANTARA NAKAL DAN HIDAYAH

📌 ANTARA NAKAL DAN HIDAYAH

Abdurrahman As Sudais, sampai umur kelas enam SD, dikenal sebagai anak nakal, begitu nakalnya, sampai-sampai adonan kue Ied, yang dibuat ibunya, ditaburi oleh pasir, sekiranya bukan karena hidayah Allah dan kemudian doa ibunya di saat marah, agar Allah mengubah dirinya menjadi penghafal Al Qur’an, tidak akan ada orang yang mengenalnya sebagai imam dua Al Haram.

Ibnu Hazm, sampai umur tiga puluh, ia seorang yang bodoh, hidup mewah di istana, dan bebal, kemudian atas taufiq Allah, hatinya dibukakan untuk mempelajari ilmu, kemudian ia menjadi salah satu faqih negeri Andalus.

Tidak ada yang mengenal Fudhail bin Iyyadh, kecuali begal dan preman, sekiranya ia tidak mendengarkan seseorang membacakan Al Hadid (surah Al Hadid), benar-benar ia hidup dalam lingkup kejahatannya, namun Rabbnya memilihnya untuk menjadi imam di antara Kaum Muslimin.

Sekiranya Syafi’i, tidak dewasa di atas didikan keras dari Malik (Imam Malik), dan pukulan rotan yang senantiasa dipegang, tidak akan ada kitab Al Umm dan Risalah…

Anak… Yang saat ini kita lihat bebal, anak nakal, anak tidak tahu aturan…. Tunggu … Sebentar…

Sekiranya,

Orang tua senantiasa membantu dengan doa doanya…

Sekiranya masyarakat bersabar dan berlapang dada serta memberikan waktu untuk mereka berubah…

Sekiranya setiap orang tua, memahami “kerasnya” pendidikan guru…

Tentunya setiap anak akan berubah… Tinggal menunggu waktunya…

Namun demikian…

Orang tua sendiri tidak mampu mendidik, namun saat anaknya ditempa gurunya… Mereka tidak terima…

Masyarakat, tidak mau tau… Tidak memberikan lapang dada dan kemakluman, sehingga “stigma nakal”, senantiasa tertanam di hati anak…

Orang tua sendiri tidak mau dan mampu berubah, kolot, mengajarkan (memberikan contoh) keburukan, merokok, makan dengan tangan kirinya, misuh, dan menujukkan semua jenis kesalahan terus-menerus di depan mata anak..

Bahkan keceriaan saat ini, banyak keceriaan anak-anak di dalam masjid, dianggap “virus tidak khusyu”, kemudian terusir… Padahal hati hati orang orang tua di dalamnya itulah yang keras…

✍️ Penulis: Abu abd Rahman bin Muhammad Suud al Atsary.

(Mudir Pondok Pesantren Tahfidz Aisyah Ummul Mu’minin Madiun)

✯══ •𝗔𝗟𝗠𝗔𝗛𝗬𝗥𝗔 𝗕𝗜𝗟 ‘𝗜𝗟𝗠𝗜 • ══✯
ᴹᵉⁿⁱᵗⁱ ʲᵃˡᵃⁿ ʰⁱᵈᵃʸᵃʰ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ⁱˡᵐᵘ ᵈᵃⁿ ˢᵘⁿⁿᵃʰ

📡Website: Almahyrabililmi.com
🎞️Telegram :  t.me/Almahyrabililmi
🎙️Radio : radio.almahyrabililmi.com
📼Youtube: youtube.com/@Almahyrabililmi
💾Join waGrup : almahyrabililmi.com/wagrup
💽Instagram : instagram.com/Almahyrabililmi
🌐IG ABI school: instagram.com/almahyrabililmi_school
⏲️Facebook : web.facebook.com/Almahyrabililmi
📲Saluran WA : s.id/SaluranwaABI

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *