#Fawaid Edisi Khusus
🌨️ SEMANGAT MENGHIDUPKAN SUNNAH
(Di Balik Ru’yatul Hilal Dalam Penetapan Ramadhan dan Ied)
Allah Subhanahu wa taala berfirman,
فمن شهد منكم الشهر فليصمه.
”Maka barangsiapa yang menyaksikan (datangnya) bulan itu (Ramadhan) maka hendaknya ia berpuasa.”
(QS. Al Baqarah ayat 185)
Yang di lakukan oleh Salaf dari zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di pertengahan jaman Abbasiyah adalah mengunakan ru’yatul hilal (melihat bulan awal), kemudian baru muncul metode baru yang digunakan sebagai kaum muslimin berupa hisab (perhitungan) dalam menetapkan bulan.
Semangat salaf yang dikedepankan adalah semangat menghidupkan sunnah, sebagaimana yang telah dicontohkan salaf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, shahabat, dan tabi’in setelahnya.
Apakah ada kemungkinan perbedaan di antara orang-orang yang menerapkan metode ru’yatul hilal (melihat bulan dengan konvensional atau mata), jawaban: Ada.
Disebutkan dalam banyak riwayat, bahwasanya ru’yatul hilal antar penduduk Madinah dengan Syam berbeda, dan disebutkan dalam riwayat-riwayat dari shahabat yang banyak.
Maka di antara faidah (buah) yang didapatkan dalam upaya mengikuti sunnah ini sangatlah banyak, meskipun nantinya ada perbedaan di antara orang-orang yang menetapkan metode ini.
1.) Yang dilihat adalah adanya upaya dan keinginan menghidupkan sunnah dengan ru’yatul hilal, ini dulu yang dipegang.
Meskipun dalam perjalanannya ada perbedaan di antara mereka, yang menentukan awal Ramadhan dan Ied dengan ru’yatul hilal.
2.) Metode hisab, datang kemudian, dan tidak dikenal dalam penentuan penetapan awal bulan oleh salaf.
Meskipun nantinya dalam perjalanannya, ternyata ada persamaan waktu antara yang menempuh metode hisab dengan yang menempuh metode ru’yatul hilal.
Meskipun pada kenyataannya, banyak perbedaan yang jelas selama ini.
3.) Dibalik rahasia yang tertutupi disebagian orang, bahwasanya dalam semua hal yang ditetapkan syari’at ada pelajaran.
Sebagaimana ketika Allah menampakkan gerhana pada sebagian kaum dan menutupi dari sebagian yang lain, agar menjadikan pelajaran untuk yang melihat.
Maka, ketika satu kaum diperlihatkan bulan baru (hilal), terlebih dahulu di satu tempat, Allah menghendaki untuk mereka merasakan ketaatan lebih lama, ampunan yang lebih luas.
Sementara yang belum diperlihatkan hilal, sehingga lebih lambat untuk melaksanakan sebuah ketaatan, Allah menghendaki rukhsah (keringanan) untuk mereka, sehingga mereka merasakan kasih sayang yang sempurna dari Rabbnya sehingga mereka banyak bersyukur.
Maka, hendaknya setiap orang mewujudkan semangat melaksanakan sunnah, meskipun nantinya ada perbedaan di antara mereka pun, kedua kebaikan akan mereka rasakan, karena tidak ada yang sia-sia dalam ketetapan syari’at Allah.
Oleh yang butuh dan mengharapkan ampunan Rabbnya.
✍️ Penulis: Ustadz Abu Abdurrahman bin Muhammad Suud al Atsary حفظه الله تعالى
🌐 Sumber: Kajian Pencari Ilmu Syar’i
✯══ •𝗔𝗟𝗠𝗔𝗛𝗬𝗥𝗔 𝗕𝗜𝗟 ‘𝗜𝗟𝗠𝗜 • ══✯
ᴹᵉⁿⁱᵗⁱ ʲᵃˡᵃⁿ ʰⁱᵈᵃʸᵃʰ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ⁱˡᵐᵘ ᵈᵃⁿ ˢᵘⁿⁿᵃʰ
📡Website : https://Almahyrabililmi.com
📖 Link daftar sekolah dan kelas online : daftar.almahyrabililmi.com
🎞️Telegram : t.me/Almahyrabililmi
🎙️Radio : radio.almahyrabililmi.com
📼Youtube: youtube.com/@Almahyrabililmi
💽Instagram : instagram.com/Almahyrabililmi
⏲️Facebook : web.facebook.com/Almahyrabililmi
🌐Web sekolah : https://school.almahyrabililmi.com
🗃️IG sekolah : instagram.com/almahyrabililmi_school
💾Join wa Grup : almahyrabililmi.com/wagrup
📑Saluran WA: s.id/SaluranwaABI


